Menjadi Orangtua? Jangan Malu Bertanya dan Berburu Literasi!
Banyak yang bilang, belum ada
lembaga formal yang menyusun kurikulum serius rumpun keilmuan menjadi orangtua.
Iya, kan?
Padahal, tanggungjawab menjadi
orangtua itu, dari sejak anak lahir hingga batas waktu tak terhingga.
Kenapa tak terhingga? Ketika sang
buah hati sudah menjadi orangtua, ayah dan bunda tetap saja akan menjadi
orangtua. Bahkan bertambah fungsinya, menjadi kakek dan nenek. Hiks...
Menjadi orangtua, adalah untuk
meningkatkan dan mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial dan
intelektual seorang anak.
Tuh! Banyak, kan? Terkadang
orangtua bingung! Mau mulai dari mana?
Hal wajar, jika orangtua
menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Selain poin diatas, juga berharap
kesuksesan masa depan anaknya. Aih, semua orangtua ingin begitu, tah?
Menurut kiramologiku, yang
pertamakali harus dilakukan adalah “menyiapkan mental sebagai orangtua”.
Halah, teori apaan? No, aku gak
berteori. Sependek pengalaman juga diskusi dengan beberapa teman. Persiapan menjadi
oangtua, acapkali diabaikan. Alasannya?
Pertama. Kehadiran buah hati
adalah ‘Rahasia Tuhan”. Ada pasangan yang cepat mendapatkan anak, ada juga yang
butuh waktu lama, kan?
Nah, terkadang, rahasia ilahi,
maka pasangan terkadang “menunda” untuk belajar jadi orangtua.karena ini. Jawabannya?
“Lah mau belajar gimana, anaknya aja belum ada!”
Kedua. Pernikahan yang dilakukan
dengan masa perkenalan (pacaran?) sekian lama, tak menjamin seseorang mampu
berperan sebagai suami atau istri yang baik, kan?
Jadi, saat masih masa
penyesuaian dalam perkawinan yang baru dilalui, sambil kembali beradaptasi
dengan kekurangan dan kelebihan antar pasangan. Juga belajar menjadi suami atau
istri idola.
Lagi masa seperti itu, tetiba
ada karunia seorang anak! Jadi belum tuntas sebagai suami atau istri, sudah
harus menjadi orangtua. Adaptasi mentalnya terkadang belum tuntas, tah?
Ketiga. Malu bertanya, enggan berburu
literasi! Wah, ini banyak dialami oleh pasangan muda. Bisa berbagai sebab. Dari
khawatir dianggap tak mampu, hingga merasa bisa selesai dengan belajar sendiri.
Jikapun ada yang bertanya, umumnya
memilih orangtua sendiri atau teman terdekat yang dianggap berpengalaman. Sialnya,
terkadang rute setiap orang berbeda, tah?
Jadi? Ada baiknya, saat
memutuskan untuk menikah. Tak hanya belajar dan memperkaya literasi tentang bagaimana
mempertahankan biduk rumah tangga. Serta menjalankan peran dengan baik sebagai
suami atau istri.
Namun juga mempersiapkan diri
secara mental untuk menjadi orangtua! Caranya? Menimba pengalaman dari orang
lain dan membaca berbagai literasi parenting. Hanya itu!
Udah, itu aja dulu. Tulisan berikutnya,
insyaallah tak tuis tentang Pola Asuh Anak, ya?
Salam!
Curup, 27.03. 2020
zaldychan

Komentar
Posting Komentar