Merasa Bosan "Liburan"? Hayuk Buat Tim Keluarga!



Satu pekan kebijakan “Belajar di Rumah” dan “Bekerja di Rumah” telah dijalankan. Sebagai orang awam, tak ada yang bisa dilakukan terhadap pandemic coronavirus, kan? Kecuali berusaha mematuhi himbauan tersebut.

Kenapa patuh? Setidaknya tidak menambah beban bagi keluarga terdekat, orang-orang  di sekitar lingkungan, tenaga kesehatan atau orang-orang yang berjuang agar ketidakpastian ini, kembali seperti semula, tah?

Situasi yang tidak biasa ini, juga melahirkan berbagai sikap perilaku yang tak biasa juga. Malah ada yang gagap dan merasa tak tahu apa yang harus dilakukan, ketika musti liburan namun tak bisa dinikmati sebagai liburan.

Sejak pagi, anak-anak masih bertarung dengan berbagai buku pelajaran, ketika biasanya hal itu  dilakukan saat berseragam sekolah. bingung untuk menikmati rasa lelah usai mengerjakan tugas-tugas dari guru, namun tak bisa bebas keluar rumah.


Libur, Namun Tak Merasakan "Liburan"


Begitu juga dengan orangtua. Tak hanya sibuk menyelesaikan pekerjaan rutin di rumah, melaksanakan tugas jarak jauh dari tempat kerja. Namun keadaan jadi bertambah, saat anak berseliweran, bertanya ini dan itu atau bermain di dalam rumah.

“Gagap interaksi sosial” di dalam rumah itupun berlanjut ke luar rumah. Ada rasa enggan dan khawatir keluar rumah.

Jika pada dua atau tiga hari pertama, menikmati “liburan ini”. Seiring berjalan waktu, pelan-pelan muncul kebosanan dengan kegiatan dan rutinitas yang itu-itu saja.

Bosan menyaksikan layar televisi menyajikan hal yang sama dan berulang. Bosan menyentuh beragam gawai, karena juga menemukan isu dan topic pembicaraan yang sama. Kemungkinan besar semua anggota keluarga juga merasakan hal demikian. Iya, kan?

Hayuk, Buat Tim Keluarga!

Terus, apa yang bisa dilakukan? Saatnya kembali menjadikan anggota keluarga di rumah sebagai sebuah tim.

Hentikan dulu “aturan tak tertulis” tentang ketetapan penugasan ayah bekerja cari nafkah, ibu membereskan urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan membersihkan rumah dan anak-anak belajar.

Silakan mengekplorasi titik-titik penugasan itu secara keroyokan. Masak bersama, mencuci atau membersihkan rumah bersama, juga belajar bersama.

Kukira, kebersamaan itu akan memantik semangat baru, juga menjadi tantangan baru bagi setiap anggota keluarga setelah lama terkurung dalam rutinitas. Muaranya? Memperkuat ikatan lahir dan batin di dalam keluarga.

Jika itu dilakukan? Tanpa disadari, makna edukasi dan parenting, sudah terjadi di rumah. Jadi? Hayuk menciptakan tim di rumah!

Curup, 22.03. 2020
zaldychan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar di Rumah? Kenapa Tidak?

UN Dihapus, Bahagia atau Kecewa?

Menjadi Orangtua? Jangan Malu Bertanya dan Berburu Literasi!